Rabu, 13 Mei 2009

THE NEW ERA OF THE CUSTOMER BASIS BRAND (2)

When we talk about the standard of our brand, we point out three of our traits: high quality of product, service and process. But when nobody buy it, we are bragging. Our business is about numbers. If we cannot achieve our target number then it seems we fail. No excuse! Bye bye! Sayonara! It means we are out of business! It's better if we have a small business but we have a big number of customers, right?

So now, we have the best brand, but how to make it works and marketable? Marketable or not, the decision is in the hand of our customers, period! If most of our customers trust our brand, then utterly it works and ready to get into the market. The winner takes the most! That's the law of the business.

The best strategic plan then would be like this: we have to look for the need or the desire of our customers and find a way how to present our traits at certain levels. Make them involve in our business, grab their trust. By this strategy we are not only developing a word of mouth marketing but also unleashing the ideavirus.

Like it or not, we are in the era of the Customer's Basis Brand where the customers will decide which brand or organization may stand till last and which one may go early.

Note: Next time we will discuss the difference between WOMM and Unleashing Ideavirus

Kamis, 07 Mei 2009

THE NEW ERA OF THE CUTOMER BASIS BRAND (1)

Entah sudah ada yang memakai istilah ini atau belum, tapi saya mau memperkenalkan idealisme saya kepada masyarakat mengenai 'The Customer's Basis Brand' atau 'Merek Berbasiskan Pelanggan'. Tidak perlu menjadi pakar di dalam teori pemasaran dan penjualan, yang diperlukan hanya kesediaan kita untuk mendengarkan pelanggan dan melayani sesuai apa yang mereka inginkan sehingga mereka boleh memiliki suatu kenangan yang indah dan positif dari pengalaman atas apa yang mereka beli.

Di dalam bukunya The New Gold Standard, Joseph A. Michelli mengutip pernyataan dari analis bisnis Jennifer Kirby:

'Antena harus dilatih untuk mengetahui kondisi pasar yang terus berubah, misalnya, masukan dari pelanggan, informasi intelijen dari tenaga penjual, pemantauan berita dari mulut ke mulut...'

Lebih lanjut di dalam buku yang sama, beliau mengutip pernyataan Ed Zore, presiden dan pimpinan perusahaan asuransi jiwa Northwestern Mutual Life Insurance company dalam sebuah artikelnya di Harvard Business Review:

'... Kita juga mengukur relevansi dengan mendengarkan pelanggan...'

Tidak dapat disangkal bahwa angka-angka penjualan suatu bisnis menjadi tolak ukur relevansi produk dan jasa yang kita tawarkan kepada pelanggan. Relavansi telah menjadi salah satu faktor penentu rugi-laba suatu perusahaan selain daripada kinerja perusahaan. Dan relevansi produk atau jasa dengan pelanggan hanya terjadi apabila pelanggan percaya bahwa bisnis berkembang ke arah kebutuhan mereka. Jika demikian, kita menyakini bahwa di era ini keikutsertaan pelanggan di dalam suatu bisnis sangat dituntut demi menciptakan apa yang dinamakan 'The Customer's Basis Brand' atau 'Merek Berbasiskan Pelanggan'.

Saya dan anda sekarang pasti sangat yakin bahwa 'The Customer's Basis Brand' dapat menciptakan Customer's Loyalty dan Cash-Free Marketing yang berpengaruh pada eksistensi dan profitabilitas suatu perusahaan.

Semoga bermanfaat!

Senin, 04 Mei 2009

BAGAIMANA KEBAHAGIAAN KARYAWAN DAPAT MENGHASILKAN KEUNGGULAN MUTU DAN KEUNTUNGAN BAGI PERUSAHAAN?

Saya yakin bahwa anda seperti halnya saya, sering berkunjung ke perusahaan-perusahaan entah itu ke klien kita ataupun demi urusan yang lain. Tidak jarang kita menemui atau berhadapan dengan karyawan yang istilahnya hidup segan matipun tak mau. Tidak punya semangat, tidak ada etiket berkomunikasi, tidak ada senyum di wajahnya saat menerima tamu, pakaian asal-asalan, ‘cuek-in tamu’ tapi bergosip ria dengan temannya atau asyik bermain game dan lain-lain yang membuat kita ingin cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu. Kita melihat tidak ada kebahagiaan pada karyawan itu. Lalu mengapa demikian? Apakah ini 100% adalah kesalahan karyawan tersebut? Atau kesalahan perusahan dalam (asal-asalan) merekrut? Atau jangan-jangan perusahaannya sendiri yang tidak bisa/tahu cara membahagiakan karyawannya? Padahal hasil riset dari berbagai sumber mengatakan bahwa kebahagiaan karyawan erat kaitannya dengan mutu dan keuntungan (profitabilitas) dari perusahaan tersebut!

Jim Aling, Presiden Starbucks U.S. Business, di dalam prakatanya dalam sebuah buku The Starbucks Experience karya Joseph A. Michelli, menyatakan bahwa profitabilitas itu esensial untuk kesuksesan di masa depan, namun hal itu bukanlah yang pertama di dalam daftar; profitabilitas adalah yang terakhir. Lebih lanjut beliau mengatakan pada dasarnya orang-orang ingin melakukan hal-hal yang baik, mereka ingin menciptakan dan menawarkan sesuatu yang berkualitas. Dan apabila mereka diberikan kesempatan dan sumber daya untuk melakukannya, mereka akan berjaya. Berarti saya dapat mengindikasikan bahwa keunggulan suatu usaha atau business bermuara kepada leadership skill dari para pimpinan dalam menciptakan kebahagiaan karyawannya melalui apresiasinya lewat trust, delegation and commitment. Ini jelas merupakan Top-Down Method dalam hal kepemimpinan di suatu perusahaan.

Jack Welch, the Icon Business pada abad ini memiliki model Leadership yang mana dari ke-13 atributnya, 3 diantaranya menyatakan: Having a sense of humor, having fun, or having infectious enthusiasm. Model Kepemimpinan dari Welch ini jelas sangat memperhatikan kebahagiaan para karyawan. Juga, apabila anda pernah melihat sebuah piagam Partnering atau Partnering Charter, maka anda pasti akan menemukan salah satu poin yang bertuliskan 'Have Fun' atau bersenang-senang. Mereka mengerti bahwa bersenang-senang dapat menstimulasi kebahagiaan karyawan. Bersenang-senang bukan berarti hidup atau kerja se-enak-nya (asal-asal-an). Mereka, saya dan anda tentunya percaya bahwa tidak ada karyawan yang bahagia karena dapat kerja se-‘enak-nya di perusahaan di mana mereka bekerja (ingat perkataan dari Jim Aling di atas).

Kebahagiaan karyawan menyangkut bagaimana mereka dapat merasakan dan memiliki kesenangan (Having Fun) di dalam pekerjaan mereka. Dan kesenangan itu sendiri lahir dari sebuah apresiasi atau recognition dalam budaya kepemimpinan. Simon F. Cooper, Presiden Ritz-Carlton menjelaskan di dalam prakatanya dalam buku berjudul The New Gold Standard karya Joseph A. Michelli, bahwa budaya apresiasi ini telah meresap di dalam kehidupan di Ritz Charlton. Semangat ini dibuktikan melalui begitu banyaknya karyawan mereka yang setia dan yang kemudian menjadi pejabat eksekutif di perusahaan-perusahaan mereka. Asal kita tahu saja bahwa mereka menyebut para karyawan hotel tersebut sebagai Pria dan Wanita Terhormat. Itulah salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap karyawannya.

Ijinkanlah saya mengutip pelajaran berharga dari buku The Starbucks Experience (hal. 83-84) yang saya yakin akan sangat berharga bagi kita semua:

Ketika CEO dan pemimpin dewan direksi menghargai dan mempraktikkan apresiasi, budaya biasanya berkembang di mana orang saling mengingatkan satu sama lain untuk berbuat baik, dan hal itu dapat meningkatkan sikap yang diharapkan dan menghasilkan keunggulan. Ketika komitmen terhadap pengakuan dikombinasikan dengan semangat kepemimpinan yang menyenangkan, karyawan cenderung peduli dan bahagia. Pada gilirannya, kepuasan itu menghasilkan manfaat tersembunyi dalam perkembangan interaksi yang positif bagi rekan kerja dan pelanggan. Melalui jenis interaksi semacam itu, loyalitas pelanggan meningkat dan pada akhirnya meningkatkan penjualan-hasil yang diharapkan oleh semua perusahaan. Saat beberapa eksekutif perusahaan mengabaikan dampak nyata pembentukan budaya yang positif, kesuksesan Starbucks bisa membuktikan bahwa bila pengakuan, pelatihan, dan kesenangan diperhatikan dengan seksama maka di situ ada keuntungan.

Semoga bermanfaat bagi wawasan kita dalam membangun suatu business yang elegant!