
Saya yakin bahwa anda seperti halnya saya, sering berkunjung ke perusahaan-perusahaan entah itu ke klien kita ataupun demi urusan yang lain. Tidak jarang kita menemui atau berhadapan dengan karyawan yang istilahnya hidup segan matipun tak mau. Tidak punya semangat, tidak ada etiket berkomunikasi, tidak ada senyum di wajahnya saat menerima tamu, pakaian asal-asalan, ‘cuek-in tamu’ tapi bergosip ria dengan temannya atau asyik bermain
game dan lain-lain yang membuat kita ingin cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu. Kita melihat tidak ada kebahagiaan pada karyawan itu. Lalu mengapa demikian? Apakah ini 100% adalah kesalahan karyawan tersebut? Atau kesalahan perusahan dalam (asal-asalan) merekrut? Atau jangan-jangan perusahaannya sendiri yang tidak bisa/tahu cara membahagiakan karyawannya? Padahal hasil riset dari berbagai sumber mengatakan bahwa kebahagiaan karyawan erat kaitannya dengan mutu dan keuntungan (profitabilitas) dari perusahaan tersebut!
Jim Aling, Presiden Starbucks U.S. Business, di dalam prakatanya dalam sebuah buku The Starbucks Experience karya Joseph A. Michelli, menyatakan bahwa profitabilitas itu esensial untuk kesuksesan di masa depan, namun hal itu bukanlah yang pertama di dalam daftar; profitabilitas adalah yang terakhir. Lebih lanjut beliau mengatakan pada dasarnya orang-orang ingin melakukan hal-hal yang baik, mereka ingin menciptakan dan menawarkan sesuatu yang berkualitas. Dan apabila mereka diberikan kesempatan dan sumber daya untuk melakukannya, mereka akan berjaya. Berarti saya dapat mengindikasikan bahwa keunggulan suatu usaha atau business bermuara kepada leadership skill dari para pimpinan dalam menciptakan kebahagiaan karyawannya melalui apresiasinya lewat trust, delegation and commitment. Ini jelas merupakan Top-Down Method dalam hal kepemimpinan di suatu perusahaan.
Jack Welch, the Icon Business pada abad ini memiliki model Leadership yang mana dari ke-13 atributnya, 3 diantaranya menyatakan: Having a sense of humor, having fun, or having infectious enthusiasm. Model Kepemimpinan dari Welch ini jelas sangat memperhatikan kebahagiaan para karyawan. Juga, apabila anda pernah melihat sebuah piagam Partnering atau Partnering Charter, maka anda pasti akan menemukan salah satu poin yang bertuliskan 'Have Fun' atau bersenang-senang. Mereka mengerti bahwa bersenang-senang dapat menstimulasi kebahagiaan karyawan. Bersenang-senang bukan berarti hidup atau kerja se-enak-nya (asal-asal-an). Mereka, saya dan anda tentunya percaya bahwa tidak ada karyawan yang bahagia karena dapat kerja se-‘enak-nya di perusahaan di mana mereka bekerja (ingat perkataan dari Jim Aling di atas).
Kebahagiaan karyawan menyangkut bagaimana mereka dapat merasakan dan memiliki kesenangan (Having Fun) di dalam pekerjaan mereka. Dan kesenangan itu sendiri lahir dari sebuah apresiasi atau recognition dalam budaya kepemimpinan. Simon F. Cooper, Presiden Ritz-Carlton menjelaskan di dalam prakatanya dalam buku berjudul The New Gold Standard karya Joseph A. Michelli, bahwa budaya apresiasi ini telah meresap di dalam kehidupan di Ritz Charlton. Semangat ini dibuktikan melalui begitu banyaknya karyawan mereka yang setia dan yang kemudian menjadi pejabat eksekutif di perusahaan-perusahaan mereka. Asal kita tahu saja bahwa mereka menyebut para karyawan hotel tersebut sebagai Pria dan Wanita Terhormat. Itulah salah satu bentuk apresiasi mereka terhadap karyawannya.
Ijinkanlah saya mengutip pelajaran berharga dari buku The Starbucks Experience (hal. 83-84) yang saya yakin akan sangat berharga bagi kita semua:
Ketika CEO dan pemimpin dewan direksi menghargai dan mempraktikkan apresiasi, budaya biasanya berkembang di mana orang saling mengingatkan satu sama lain untuk berbuat baik, dan hal itu dapat meningkatkan sikap yang diharapkan dan menghasilkan keunggulan. Ketika komitmen terhadap pengakuan dikombinasikan dengan semangat kepemimpinan yang menyenangkan, karyawan cenderung peduli dan bahagia. Pada gilirannya, kepuasan itu menghasilkan manfaat tersembunyi dalam perkembangan interaksi yang positif bagi rekan kerja dan pelanggan. Melalui jenis interaksi semacam itu, loyalitas pelanggan meningkat dan pada akhirnya meningkatkan penjualan-hasil yang diharapkan oleh semua perusahaan. Saat beberapa eksekutif perusahaan mengabaikan dampak nyata pembentukan budaya yang positif, kesuksesan Starbucks bisa membuktikan bahwa bila pengakuan, pelatihan, dan kesenangan diperhatikan dengan seksama maka di situ ada keuntungan.
Semoga bermanfaat bagi wawasan kita dalam membangun suatu business yang elegant!