Kamis, 30 April 2009

UNVEILING CEREMONY, MASIHKAH EFEKTIF DI ERA INI?

Mungkin banyak dari kita, para marketer khususnya, yang bertanya-tanya mengapa unveiling ceremony yang diadakan tidak membuahkan hasil yang mengembirakan, padahal kerja untuk mewujudkan acara ini sudah semaksimal mungkin? Mengapa penjualan hanya naik sedikit padahal biaya sudah begitu banyak dikeluarkan untuk acara ini? Apa yang salah? Apakah konsumen sasaranya yang salah atau masihkah acara ini dianggap efektif untuk meningkatkan penjualan?

Keefektifan unveiling ceremony atau suatu demonstrasi peluncuran (bisanya perkenalan awal suatu produk atau tipe baru) tergantung atas maksud-tujuan dan target dari acara tersebut. Bagi saya, acara tersebut hanyalah untuk memberikan suatu atraksi agar masyarakat umum dan pengguna pada khususnya tetap sadar bahwa merek yang mereka pakai tetap exist ataupun sadar bahwa merek tersebut sedang mengadakan launch tipe terbarunya. Secara singkat tujuan unveiling atau launch ceremony bertujuan untuk tetap mempertahankan loyalitas dan kebanggaan customers, menarik perhatian segment 'para pengadopsi awal' dan 'mayoritas awal' dari suatu pasar yang luas, serta mencuri sebagian kecil market share dari pelanggan merek lain (competitor).

Tidak dapat dipungkiri bahwa acara tersebut bukanlah suatu alat yang paling jitu untuk dapat merubah pikiran mayoritas orang dari pelanggan tetap suatu produk yang telah mereka percaya untuk menyukai dan mempercayai produk baru yang sedang diluncurkan. Sangatlah ‘naïve’ untuk menggunakan acara tersebut demi mengeruk leads (market share) pemegang merek lain. Ambilah contoh seperti demikian: Anda sudah cocok dengan produk A dalam menyembuhkan gejala penyakit anda. Apakah anda dengan mudah berpaling ke produk B yang baru saja diluncurkan? Jangankan dari merek lain, tipe lain dari merek yang sama-pun belum tentu menarik perhatian anda untuk mencoba, bukan?

Begitupun dengan masyarakat sekarang yang secara mayoritas sudah memiliki pendidikan atau analisa yang jauh lebih baik dan yang sudah banyak mengalami atau terjerumus oleh kebohongan-kebohongan marketing yang ada. Masyarakat sekarang tidak lagi mudah untuk masuk (terperangkap) dalam persuasi yang ditawarkan oleh para marketer lewat media marketing apapun. Mereka tidak lagi mudah percaya! Mereka enggan untuk melepaskan waktu yang berharga demi melayani marketers, apalagi menyangkut masalah investasi dana mereka dalam jangka waktu yang lama dengan melibatkan diri mereka, sanak saudara, maupun teman-teman mereka. Di dalam pikiran mereka, hal yang ditawarkan oleh para marketer akan terlalu beresiko dan menyita waktu bila dilayani. Jadi pada prinsipnya mereka tidak mau merubah paradigma-nya terhadap suatu merek yang mereka telah nikmati atau percayai selama ini.

Namun, bukan berarti acara ini telah menemui jalan buntu. Diperlukan kreatifitas dan inovasi di dalam penyelenggaraannya. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk ke depannya acara unveiling atau launch ceremony harus diolah secara matang dan cerdik demi mengeruk atau menarik perhatian market share yang ada. Usulan saya ada 3 yang berkaitan dengan acara ini agar lebih efektif:

  1. Kaitkan acara tersebut dengan program CSR (Corporate Social Responsibility) anda. Buat acara ini untuk mendukung aksi sosial bagi kaum minoritas yang sedang terkena bencana, non-profit organization seperti yayasan yatim piatu, panti jompo, yayasan tuna rungu, dll. Acara ini-pun dapat dipakai dalam gabungannya dengan suatu komunitas seperti pencita lingkungan yang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan komunitas seni seperti seni lukis, fotografi, musik tradisional, dll. Disarankan agar melibatkan orang-orang tersebut dalam kepanitiaan acara ini;
  2. Dapat pula kita targetkan acara tersebut bagi suatu komunitas besar melalui penawaran trend yang sedang laku atau in saat itu seperti acara musik kawula muda. Buat acara tersebut sebagai ajang untuk mencari bakat tertentu dimana hasilnya dapat diorbitkan melalui suatu paket atau produk yang kemudian kita jual sebagai value added bagi organisasi kita;
  3. Pergunakan pelanggan setia anda untuk terlibat di dalam acara yang akan dibentuk. Undangan yang mereka sebarkan lebih dapat dipercaya oleh masyarakat dan dapat menstimulasi crowd dari komunitas lain. Pergunakan kekuatan referral marketing pada acara ini bahkan sebelum acara itu dimulai dengan melibatkan mereka dalam susunan kepanitiaan acara ini.
Demikianlah ulasan saya terhadap apa yang disebut Unveiling Ceremony sebagai alat marketing yang diharapkan akan lebih membawa dampak yang hebat dikemudian hari bagi organisasi yang kita pimpin atau miliki.


Senin, 27 April 2009

THE STARBUCKS EXPERIENCE: 8 POIN DALAM MENGHADAPI KRITIK

Bisnis yang berkembang sudah dapat dipastikan akan menghadapi tantangan dari dinamika pasar dan kekuatan sosial. Dimana terjadinya kehilangan atau penurunan konsistensi di dalam pelayanan, maka masalah sosial kemudian mencuat ke permukaan. Masalah sosial biasanya berupa kritikan dan keluhan. Menghadapi masalah sosial ini perusahaan memiliki pilihan entah itu menghadapi atau menghindarinya. Kritik muncul di luar kontrol bisnis, dan tidak ada kata adil atau tidak adil dalamnya. Kritik sudah pasti menimbulkan ketegangan dan keengganan.

Namun yang perlu diingat bahwa tujuan mengahadapi suatu kritikan bukan semata hanya demi memulihkan hubungan dengan pelanggan atau calon pelanggan, melainkan merupakan suatu kesempatan belajar untuk menjadi lebih baik dalam memberikan pengalaman bagi mereka. Beberapa poin dalam menghadapi kritik:

  1. Undang pengkritik dalam sebuah diskusi pemecahan masalah. Bangunlah ruang untuk komentar dan diskusi yang membangun;
  2. Bersikap santai, terbuka, dan lebih banyak mendengar;
  3. Tidak perlu membalas atau berusaha untuk mempengaruhi ataupun menanamkan pendapat positif terhadap situs-situs di mana kritikan itu berada atau tercetak;
  4. Lacak masalah dan area-area yang berpotensi mendatangkan masalah sejak awal dan secara proaktif;
  5. Perbaiki persepsi yang salah secara tekun dan bertanggungjawab dengan cepat dan tegas;
  6. Buat langkah antisipasi, perbaikan ataupun penyesuaian yang fleksibel dan yang sesuai dengan keinginan pelanggan atau kebudayaan masyarakat sekitar;
  7. Ikut dalam suatu komunitas sosial sebagai bentuk kepedulian yang tulus bagi kesejahteraan masyarakat sekitar;
  8. Terakhir dan yang penting adalah keefektifan kita melalui kecakapan kita untuk membedakan pengkritik yang masalahnya ingin diselesaikan dengan orang yang hanya ingin mengeluh. Seth Godin pernah menulis dalam blog-nya bahwa sia-sialah usaha kita untuk mengubah pengeluh-pengeluh tersebut untuk menjadi pelanggan setia kita sebab ‘they won’t change and will never change!’
Mari kita mulai mensyukuri dan memelihara hubungan sebaik mungkin dengan pelanggan yang telah ada dan yang setia. Jika mereka benar-benar mencintai kita, mereka akan ikut serta dalam membangun bisnis kita secara sukarela tanpa harus dibayar!

Let’s think positively now!

Senin, 20 April 2009

KONSISTENSI & HUBUNGANNYA DENGAN KEMAJUAN USAHA KITA

Di dalam bukunya Purple Cow, Seth Godin menyatakan bahwa untuk menjadi berbeda suatu jenis usaha haruslah menjadi luar biasa, konsisten dan otentik. Konsistensi dalam mutu (quality) dan pengalaman (experience) merupakan hal yang pasti demi kemajuan usaha. Mengapa? Menurut Joseph A. Michelli dalam bukunya The Starbucks Experience mengungkapkan bahwa konsistensi adalah barang langka dan berharga, perusahaan-perusahaan yang menguasainya pada akhirnya akan maju pesat (hal. 116).

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa ketika bisnis bisa memenuhi selera sejumlah besar orang secara konsisten, individu lainnya akan ikut bergabung pada organisasi tersebut untuk bersenang-senang dengan komunitas lainnya.

Konsistensi timbul dari suatu komitmen yang dimulai dari para pemimpin atau direksi. Dan jika boleh jujur, hingga saat ini saya-pun belum pernah benar-benar mengalami hal demikian di dalam perusahaan di mana saya pernah bekerja. Konsistensi memang benar-benar barang berharga.

3 hal penting hasil dari sebuah konsistensi mutu dan pengalaman (hal. 121-122 & 124) demi kemajuan suatu usaha:
  1. Budget iklan yang relative lebih sedikit dalam usaha membangun brand / merek. Hal ini cocok dengan strategi untuk menghindari persaingan dalam Red Ocean dan menjadikan kompetisi tidak lagi relevan – Blue Ocean Strategy
  2. Jika pengalaman positif dapat diandalkan oleh pelanggan, maka mereka terdorong untuk berbagi pengalaman tersebut kepada orang lain. Pelanggan terus bertumbuh seiring promosi dari mulut ke mulut / word of mouth / getok tular.
  3. Terciptanya hubungan jangka panjang yang konstruktif dan menyenangkan dimana Perusahaan bukan lagi hanya disukai melainkan dicintai pelanggannya.
Semoga hal ini menjadi cermin bagi kita semua.

Kamis, 16 April 2009

MENGAPA PELANGGAN MAU MEREKOMENDASIKAN USAHA KITA?

Selama pelanggan menyukai dan senang terhadap produk atau jasa kita, maka dapat dipastikan mereka akan merekomendasikannya kepada orang lain. Mengapa?

Di dalam hirarki kebutuhan, Abraham MASLOW membagi motivasi manusia dalam 5 kategori, yaitu:

  1. Psikologi – termasuk kebutuhan akan udara, air, makanan dan sex
  2. Keamanan – termasuk kebutuhan akan rasa aman, keteraturan dan kebebasan dari rasa takut dan ancaman
  3. Kepemilikan dan Cinta Kasih (Sosial) – termasuk di dalamnya kebutuhan akan cinta, ketertarikan, rasa memiliki dan hubungan atau relasi
  4. Penghargaan – termasuk kebutuhan akan harga diri, penghormatan dan pencapaian
  5. Actualisasi/Realisasi Pribadi – termasuk kebutuhan untuk bertumbuh / berkembang, untuk merasa terpenuhi dan merasakan potensi seseorang.
Pada dasarnya setiap orang berkeinginan untuk berbuat baik. Keinginan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk bantuan kepada orang lain untuk memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi. Bantuan tersebut dapat berupa rekomendasi atas produk atau jasa dari suatu usaha tertentu. Membantu dan berbuat baik tersebut didorong oleh motivasi untuk memenuhi kebutuhan akan suatu penghargaan (lih. Poin 4).

Jadi pada dasarnya seseorang termotivasi merekomendasikan sesuatu asalkan hal tersebut dapat memberikan jalan keluar bagi orang lain demi suatu kebutuhan atas penghargaan. Sehingga, kita tidak perlu ragu untuk memanfaatkan pelanggan kita untuk merekomendasikan produk/jasa kita kepada orang lain.

Selamat menikmati hasilnya!


Rabu, 15 April 2009

'TAHU-SUKA-PERCAYA’ SEBAGAI PARAMETER PENTING DALAM MENILAI USAHA KITA

Marketing merupakan 'on-going process'. John Jantsch dalam bukunya Pemasaran Duct Tape memberi pandangan yang sangat jelas atas definisi Marketing, yaitu:

‘Membuat orang yang mempunyai kebutuhan atau masalah khusus supaya tahu, suka, percaya, bekerja sama serta merujuk Anda kepada orang lain yang memiliki kebutuhan dan masalah yang sama’

Tahu bila tidak suka, tidak berarti. Suka bila tidak percaya, juga tidak berarti. Sebuah komitment di dalam suatu hubungan perusahaan dengan karyawan sama dengan suami dengan istri. Tidak ada komitment terjadi apabila kita tidak pernah masuk dalam proses 'tahu-suka-percaya'.

Demikian pula hubungan antara usaha kita dengan pelanggan. Parameter 'tahu-suka-percaya' harus merupakan parameter dalam usaha mengukur keberhasilan kita. Mengapa? Karena seorang pelanggan yang 'tahu-suka-percaya' kepada produk atau jasa yang kita jual, maka ia (mereka) dipastikan tidak hanya membeli melainkan pula turut bekerjasama dalam memberikan rekomendasi kepada orang lain baik itu teman maupun saudaranya. Di sini pelanggan secara tidak langsung telah merelakan dirinya untuk menjadi salesperson kita.

Mari kita uji hubungan pimpinan (CEO & para Direksi) dengan karyawannya dan hubungan perusahaan dengan pelanggan dengan parameter 'tahu-suka-percaya' (TSP).

Selamat mencoba!

Senin, 13 April 2009

RELIABLE VS UNRELIABLE & VALID VS INVALID

Sebuah sumber data dapat dikatakan reliable jika repetisi dari pengukuran menghasilkan hasil yang bervariasi antara satu dengan yang lain dengan kurang dari jumlah yang sebelumnya dispesifikasikan. Sedangkan validitas mengukur taraf atau tingkatan kepada apa yang kita percaya atas maksud dari sepenggal alat informasi.

Sebuah pengukuran dapat dipercaya (reliable) namun tidak berlaku/sah (invalid). Sebagai contoh kita telah membuat kesalahan menandai sebuah tongkat pengukur namun (berpura-pura) menganggap panjangnya adalah 1 meter. Tongkat tersebut kemudian digunakan secara konsisten, sehingga hal ini dapat disebut dipercaya (reliable). Namun, hal ini tidak cocok dengan ukuran sebenarnya penggaris 1 meter yang lain, sehingga hal ini tidak dapat dikatakan berlaku/sah (invalid).

Sumber: PROJECT MANAGEMENT – A Managerial Approach, Jack R. Meredith & Samuel J. Mantel, JR., 1995

KWANTITATIF VS KWALITATIF: MANA YANG BERSIFAT NUMERIK?

Perbedaan antara kwantitatif dan kwalitatif sering disalahmengertikan. Ini bukan merupakan hal mana yang bersifat numerik dan mana yang bukan. Sebenarnya baik kwantitatif dan kwalitatif dapat diukur secara numerik. Jumlah kata pada artikel ini adalah sebuah kwantitas. Warna merah sebuah bunga Mawar adalah sebuah kwalitas, tapi kwalitas juga mempunyai panjang gelombang yang dapat diukur secara numerik (angka), yaitu dalam hal ini mikron.

Perbedaan yang benar adalah dalam kwantitas dapat diterapkan hukum penjumlahan, sedangkan kwalitas tidak dapat. Sebagai contoh, air memiliki pengukuran volume dan berat jenis. Yang volume adalah kwantitatif sedang yang berat jenis adalah kwalitatif. Satu buah galon air ditambahkan dengan 1 buah galon bila digabungkan dalam suatu wadah menghasilkan volume 2 galon air. Namun, berat jenis air sebelum dan sesudah penggabungan adalah tetap yaitu 1.

Sumber: PROJECT MANAGEMENT – A Managerial Approach, Jack R. Meredith & Samuel J. Mantel, JR., 1995

Rabu, 08 April 2009

SUBYEKTIF VS OBYEKTIF: MANA YANG KELIRU?

Kita sering menilai bahwa penilaian yang didasarkan secara subyektif adalah keliru. Contohnya, banyak kita mendengar atau bahkan kita sendiri pernah mengatakan: 'Jangan subyektif dong kalo menilai. Kita harus obyektif, tau...!' Apakah benar demikian?

Di dalam program S2 yang saya pernah tempuh, di dalam bidang statistik kita diwajibkan untuk melihat dan mengerti terlebihdahulu beberapa terminologi dalam statistik. Dan pengukuran secara obyektif dan subyektif-pun masuk di dalamnya. Sering kata obyektif dikaitkan dengan fakta, sedangkan subyektif adalah opini, di mana fakta = benar dan opini = salah. Perbedaan ini sering disalahpami.

Acuan teori pengukuran ini memang sedikit berbeda, tergatung pada lokasi dari standard pengukuran. Suatu pengukuran yang diambil oleh referensi atas standard eksternal dapat dikatakan 'obyektif'. Sedangkan, referensi atas standard internal dari suatu sistem dikatakan 'subyektif'. Sebagai contoh: sebuah tongkat yang secara keliru dibagi menjadi 100 devisi dan di cap 'meter', dapat dikatakan obyektif namun tidak tepat atau keliru! Sementara, mata dari seorang ahli ukur dikatakan subyektif namun dapat lebih akurat.

Semoga berguna!

Senin, 06 April 2009

ULASAN RINGKAS BLUE OCEAN STRATEGY

Seberapa cepat dan mudah bagi ‘strategi samudra biru’ untuk diterapkan ke dalam perusahaan kita adalah tergantung daripada kualitas Kepemimpinan tipping point yang dimiliki pemimpin dalam melompati rintangan kognitif, keterbatasan sumber daya, motivasi dan rintangan politis. Tujuan dari kepemimpinan tipping point adalah untuk mencapai suatu perubahan strategis secara cepat dengan biaya rendah. Kunci dari pencapaian dalam kesuksesan eksekusi ada pada seberapa adil proses dalam suatu Perumusan Strategi tersebut. Suatu proses yang adil mendorong tumbuhnya kepercayaan dan komitment dari para bagian stakeholder yaitu karyawan, mitra kerja, masyarakat umum, sehingga mereka secara sukarela mau bekerjasama agar strategi tersebut dapat dieksekusi dan diadopsi. .

Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru) adalah suatu strategi yang ditawarkan bagi perusahaan yang memiliki pasar dengan persaingan yang sangat kompetitif dan berkeinginan untuk menjauh dari persaingan itu melalui suatu inovasi nilai demi meraup laba dari pasar yang lebih luas. Inovasi nilai itu sendiri merupakan paduan dari inovasi dengan manfaat, harga dan biaya. Sehingga perusahaan harus mengadakan diferensiansi dan pengurangan biaya secara bersamaan. Dimulai dengan kerangka pembuatan kanvas strategi dan skema hapus-kurangi-tingkatkan-ciptakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing, kebutuhan dan keinginan yang penting dari pasar yang tidak dimiliki baik oleh kita maupun para pesaing kita, apa sebenarnya yang tidak begitu dituntut atau diinginkan oleh pasar, serta bagian-bagian mana saja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan. Sehingga dengan strategi tersebut perusahaan lebih memiliki fokus, bergerak menjahui kompetisi yang keras dan memboroskan serta dapat lebih mudah menciptakan suatu moto atau tag-line yang lebih memikat mengingat deferensiasi yang dihasilkan berbeda dan menonjol. Strategi ini pun mengajak kita untuk merekonstruksi batasan-batasan pasar yang telah ada. Kita memiliki kesempatan luas untuk melihat dan memenuhi kebutuhan segment pasar lain. Sehingga konsumen dari segmen yang kita ciptakan menjadi lebih sangat banyak.

Inilah rangkaian Strategi Samudra Biru: Apakah perusahaan kita memiliki suatu diferensiasi yang berbeda dan mencolok atau menawarkan suatu manfaat yang sangat istimewa bagi pembeli? Jika tidak, maka pikirkan ulang. Bila ya, maka pertanyaan berikut adalah Apakah harga kita terjangkau oleh pembeli dalam segmen kita yang luas? Jika tidak, pikirkan ulang. Bila ya, maka: Dapatkah kita mencapai biaya sasaran demi meraih laba pada harga strategis di atas? Jika tidak, pikirkan ulang. Bila ya, maka pertanyaan berikut: Apakah kita dapat menangani hambatan dalam mengadopsi strategi ini? Jika tidak, pikirkan dan usahakan kembali. Jika ya, maka Ide tersebut dapat segera dieksekusi, dan babak baru-pun dimulai. Secara singkat rangkaian strategi tersebut merupakan penciptaan yang dimulai dari DIFFERENSIASI – HARGA STRATEGIS - BIAYA SASARAN - PENGADOPSIAN.

Semoga bermanfaat!

Note: Blue Ocean Strategy adalah sebuah buku hasil investigasi dari dua orang professor Strategi dan Manajemen Internasional, yaitu W. Chan Kim dan Renee Mauborgne. Menurut saya, buku ini sangat luar biasa, masuk akal dan applikatif serta sejalan dengan buah pikir dari Seth Godin dan para Modern Marketing Guru lainnya.

PANDANGAN MARKETING SETH GODIN - FOKUS, SEDERHANA, GILA NAMUN MASUK AKAL... LUAR BIASA!

Pernah membaca buku-buku hasil pemikiran Seth Godin seperti Permission Marketing, Purple Cow, Unleashing The Ideavirus dan All Marketers are Liars? Saya pernah dan sangat menyukainya serta berpendapat bahwa ia pantas dikategorikan sebagai Modern Mechanical Marketing Guru yang sangat radikal. Serupa dengan pemikiran Academic-Modern Marketing Approach dari Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya, mereka semua mencoba untuk tidak mencampur Modern Marketing dengan pendekatan tradisional (traditional approach) yang diberi label oleh Seth Godin sebagai Interruption Marketing!

Namun, Seth Godin memiliki pemikiran Marketing Approach yang menurut saya lebih fokus, sederhana, gila namun masuk akal! Fokus karena beliau,hanya menitik beratkan Marketing pada 2 pendekatan yaitu Referral Marketing atau Permission Marketing atau Viral Marketing di mana WOM (word of mouth) termasuk di dalamnya dan Penciptaan atribut ‘Purple Cow’ yang melekat pada produk atau jasa kita. Sederhana kata saya, karena beliau tidak ingin merepotkan dirinya dengan Marketing Tools yang kurang efektif dan rumit. Bahkan beliau sempat menyinggung dalam tulisannya bahwa Press Release is nuts! Suatu pandangan yang sangat kontroversial dan kontradiksi dengan pemikiran para pendukung kekuatan dari PR (Public Relation). Gila namun masuk akal, karena beliau mengatakan apabila dimata orang lain produk atau jasa kita tidak atau kurang dianggap layak untuk diperbincangkan, maka kita harus putar haluan dengan mengganti produk atau jasa tersebut dengan yang baru! Hal ini saya anggap cukup gila karena berarti kita harus mengorbankan ivestasi yang telah kita tanam sebelumnya dan kita dapat menderita kerugian karenanya. Namun pandangan ini masuk akal juga karena untuk apa kita menjual sesuatu yang tidak pasar butuhkan atau inginkan apalagi mempercayainya. Toh, semakin kita bertahan pada produk atau jasa yang tidak laku, semakin besar kerugian kita. Jadi lebih baik menciptakan sesuatu yang dapat menciptakan laba sesegera mungkin daripada terlambat.

Pemikirannya adalah sebuah 'Purple Cow' dalam dunia Marketing.

NB: Bacalah bukunya dan rasakan sensasi yang luar biasa… Have a nice reading!

Jumat, 03 April 2009

KEPEMIMPINAN (part 2)

Bila sebagian pemimpin telah mempelajari atau bahkan mengaplikasikan Kepemimpinan di dalam kehidupan pribadi maupun keprofesionalan mereka, lalu mengapa masih banyak Project Manager yang dinyatakan gagal dalam mencapai suatu objektif atau sasaran yang telah direncanakan/ditetapkan? Tidak banyak proyek yang berada di luar budget atau selesai tidak tepat waktu atau tidak memiliki kualitas yang diinginkan. Dan bila kita merenungkan hal ini, pasti kita akan bertanya pada diri kita sendiri di bagian mana letak kegagalan kita. Memang kontribusi suatu kegagalan bukan hanya berasal dari keahlian di dalam memimpin (leadership skill) saja. Mungkin kegagalan tersebut akibat lemahnya keahlian kita dalam berkomunikasi (communication skill), berorganisasi (organizatinal skill), membangun tim (team building skill), berdaya tahan (coping skill) dan penguasaan tekhnologi (technological skill). Namun ada baiknya di dalam sesi ini kita mengetahui area mana saja dari keahlian kepemimpinan ini yang kritis (critical areas).

Sewaktu saya menempuh pendidikan S2 saya bidang Construction Management di University of New South Wales, saya membaca dan belajar dari sebuah buku yang berjudul 'Project Management - A Managerial Approach' karangan dari Jack R. Meredith dan Samuel J. Mantel, JR. Di dalam buku tersebut dinyatakan bahwa berdasarkan hasil ivestigasi terhadap hampir 287 junior dan senior project manager di Amerika ditemukan bahwa Ranking ke-4 di dalam menyumbang kegagalan dalam suatu pencapaian adalah keahlian dalam hal Kepemimpinan. Masalah yang timbul akibat kurangnya keahlian ini adalah tidak jelasnya arah atau tujuan dan konflik antar personal.

Penyelidikan kemudian dilanjutkan dan ditemukan bahwa ada lima (5) area dari keahlian tersebut yang harus diperhatikan dan benar-benar dimiliki sebagai atribut atau perilaku para project manager, yaitu:
  1. Menjadi atau memberi contoh yang baik (sets a good example)
  2. Melihat dan memiliki gambaran yang besar (vision or big picture)
  3. Menjadi antusias atau berenergi (being enthusiatic or energetic)
  4. Memiliki pandangan yang positif (having a positive outlook)
  5. Mau mendelegasikan (taking inititive and trusting people)
Jadi, bisa dipastikan bahwa apabila sebagai pemimpin kita menyadari pentingnya ke-5 area tersebut dan dapat mengintegrasikannya ke dalam perilaku kita, maka niscaya kita dapat melakukan Kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain di dalam mencapai tujuan mereka yang notabene adalah tujuan kita bersama dalam suatu organisasi. Good Luck!

Kamis, 02 April 2009

KEPEMIMPINAN (part 1)

Sebagian besar dari kita mungkin telah tahu apa itu arti dari Kepemimpinan. Dan bagi yang belum mengerti tentang hal ini atau yang masih ingin menggali lebih dalam, ijinkanlah saya memberikan suatu referensi bagi saudara.

Telah banyak pengarang yang membahas topik ini, sebut saja Stephen Covey, John C. Maxwell, Jim Garlow, Norman Vincent Peale, dan lain-lain. Namun menurut saya penjabarannya masih terasa umum hingga tiba saatnya di mana saya membaca sebuah buku dan saya menemukan definisi yang menurut pandangan saya sangat baik dan tepat yaitu karangan dari Ken Blanchard dan Phil Hodges yang berjudul Lead Like JESUS. Di dalam bukunya mereka mendefinisikan arti Kepemimpinan sebagai berikut:

Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi. Setiap saat Anda berusaha mempengaruhi cara berpikir, perilaku, atau perkembangan orang untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupan pribadi atau profesional mereka, Anda sedang menjalankan peranan sebagai pemimpin.

Suatu definisi yang sangat jelas sekali. Mengapa saya katakan demikian? Mari kita lihat sekali lagi dalam pernyataan di atas. Bila saya boleh bertanya, untuk tujuan siapa kita melakukan proses mempengaruhi itu? Ya, bagi orang lain - bukan bagi diri kita. Mungkin hal ini patut kita renungkan bahwa sebagai pemimpin kita bukan ditujukan untuk mempengaruhi dan membawa orang entah itu keluarga, teman, anak-buah atau siapa-pun itu kepada tujuan pribadi kita, melainkan kepada tujuan mereka.

Kita akan membahas mengenai hal Kepemimpinan ini pada artikel-artikel berikutnya dengan lebih mendalam. Namun saya hanya ingin menghimbau agar dasar dari Kepemimpinan harus benar-benar kita pahami terlebih dahulu sebelum kita melangkah maju.

Rabu, 01 April 2009

NILAI SEORANG SALES PERSON


Salam hangat. Saudara, adakah diatara kita yang dahulunya pernah bercita-cita sebagai salesman? Atau pernahkah sewaktu kita kuliah dahulu terbayang untuk menjadi salesman setelah lulus nanti? Amit-amit... Apa bayangan saudara terhadap profil seorang salesman? Jujur kalau saya dulu, ya... salesman itu identik dengan keringat, kusut dan ... (maaf) bau badan (mungkin). Ha.. Ha.. saya yakin saudara-pun membayangkan hal yang sama. Tidak pernah terpikir oleh saya untuk menjadi salesman. Tapi tahukah kita bahwa mayoritas pengusaha sukses ataupun CEO dari suatu perusahaan kecil hingga besar, baik dari dalam hingga luar negeri memulai peranannya dari seorang salesman? Saya akan berikan beberapa contoh mengenai hal ini di artikel berikutnya.

Wow... Mengapa demikian ya...? Well teman, satu hal yang membedakan pekerjaan lain dengan pekerjaan seorang salesman adalah suatu 'tuntutan untuk terus menerus bangkit dari kegagalan yang berkali-kali' (moto keren mereka: Tebel Muka dan Pantang Menyerah). Saya tidak bilang bahwa di dalam pekerjaan lain tidak ada tuntutan atau target yang harus dicapai, tetapi intensitas sangatlah besar di dalam pekerjaan menjual. Berapa banyak caci-makian, cemoohan, ejekan, penolakan, kata-kata yang merendahkan yang dihadapi oleh seorang karyawan selain daripada seorang penjual (salesman)? Anda mau menghitungnya..?

Nah, tantangan untuk melepaskan diri dari perlakuan atau tanggapan luar yang negatif itulah timbul suatu motivasi untuk selalu lebih unggul, lebih berdaya tahan (secara fisik maupun emosional), lebih konsisten dan lebih kreatif. Sehingga seorang salesman yang unggul tidak akan pernah 'MATI GAYA'. Mau bukti..?

Jadi usul saya, bila ingin bercita-cita menjadi jutawan atau milyuner, awalilah atau tambahilah profesi anda sebagai seorang sales. Good Luck!

Note: Jangan heran kalo seorang salesman yang berwajah pas-pasan bisa gandeng cewek atau istri cantik...!