Rabu, 08 April 2009

SUBYEKTIF VS OBYEKTIF: MANA YANG KELIRU?

Kita sering menilai bahwa penilaian yang didasarkan secara subyektif adalah keliru. Contohnya, banyak kita mendengar atau bahkan kita sendiri pernah mengatakan: 'Jangan subyektif dong kalo menilai. Kita harus obyektif, tau...!' Apakah benar demikian?

Di dalam program S2 yang saya pernah tempuh, di dalam bidang statistik kita diwajibkan untuk melihat dan mengerti terlebihdahulu beberapa terminologi dalam statistik. Dan pengukuran secara obyektif dan subyektif-pun masuk di dalamnya. Sering kata obyektif dikaitkan dengan fakta, sedangkan subyektif adalah opini, di mana fakta = benar dan opini = salah. Perbedaan ini sering disalahpami.

Acuan teori pengukuran ini memang sedikit berbeda, tergatung pada lokasi dari standard pengukuran. Suatu pengukuran yang diambil oleh referensi atas standard eksternal dapat dikatakan 'obyektif'. Sedangkan, referensi atas standard internal dari suatu sistem dikatakan 'subyektif'. Sebagai contoh: sebuah tongkat yang secara keliru dibagi menjadi 100 devisi dan di cap 'meter', dapat dikatakan obyektif namun tidak tepat atau keliru! Sementara, mata dari seorang ahli ukur dikatakan subyektif namun dapat lebih akurat.

Semoga berguna!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar