Jumat, 03 April 2009

KEPEMIMPINAN (part 2)

Bila sebagian pemimpin telah mempelajari atau bahkan mengaplikasikan Kepemimpinan di dalam kehidupan pribadi maupun keprofesionalan mereka, lalu mengapa masih banyak Project Manager yang dinyatakan gagal dalam mencapai suatu objektif atau sasaran yang telah direncanakan/ditetapkan? Tidak banyak proyek yang berada di luar budget atau selesai tidak tepat waktu atau tidak memiliki kualitas yang diinginkan. Dan bila kita merenungkan hal ini, pasti kita akan bertanya pada diri kita sendiri di bagian mana letak kegagalan kita. Memang kontribusi suatu kegagalan bukan hanya berasal dari keahlian di dalam memimpin (leadership skill) saja. Mungkin kegagalan tersebut akibat lemahnya keahlian kita dalam berkomunikasi (communication skill), berorganisasi (organizatinal skill), membangun tim (team building skill), berdaya tahan (coping skill) dan penguasaan tekhnologi (technological skill). Namun ada baiknya di dalam sesi ini kita mengetahui area mana saja dari keahlian kepemimpinan ini yang kritis (critical areas).

Sewaktu saya menempuh pendidikan S2 saya bidang Construction Management di University of New South Wales, saya membaca dan belajar dari sebuah buku yang berjudul 'Project Management - A Managerial Approach' karangan dari Jack R. Meredith dan Samuel J. Mantel, JR. Di dalam buku tersebut dinyatakan bahwa berdasarkan hasil ivestigasi terhadap hampir 287 junior dan senior project manager di Amerika ditemukan bahwa Ranking ke-4 di dalam menyumbang kegagalan dalam suatu pencapaian adalah keahlian dalam hal Kepemimpinan. Masalah yang timbul akibat kurangnya keahlian ini adalah tidak jelasnya arah atau tujuan dan konflik antar personal.

Penyelidikan kemudian dilanjutkan dan ditemukan bahwa ada lima (5) area dari keahlian tersebut yang harus diperhatikan dan benar-benar dimiliki sebagai atribut atau perilaku para project manager, yaitu:
  1. Menjadi atau memberi contoh yang baik (sets a good example)
  2. Melihat dan memiliki gambaran yang besar (vision or big picture)
  3. Menjadi antusias atau berenergi (being enthusiatic or energetic)
  4. Memiliki pandangan yang positif (having a positive outlook)
  5. Mau mendelegasikan (taking inititive and trusting people)
Jadi, bisa dipastikan bahwa apabila sebagai pemimpin kita menyadari pentingnya ke-5 area tersebut dan dapat mengintegrasikannya ke dalam perilaku kita, maka niscaya kita dapat melakukan Kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi orang lain di dalam mencapai tujuan mereka yang notabene adalah tujuan kita bersama dalam suatu organisasi. Good Luck!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar